29
Dec
08

Hati Tempat Jatuhnya Pandangan Allah

sesungguhnya kebahagiaan dan kejayaan manusia di dunia dan akhirat terletak dalam amal agama yang sempurna, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullahi shallallahu’alayhi wa sallam. Sejauh mana kita Taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sejauh itu pula kita akan benar-benar bahagia.

Umat saat ini belum mampu dan sangat sulit mengamalkan agama secara sempurna, sedang para shahabat Radhiyallahu’anhum telah mampu mengamalkan agama dengan sempurna karena dalam diri para sahabat mempunyai sifat-sifat yang mulia.

Umat saat ini akan ada kekuatan untuk mengamalkan agama secara sempurna apabila memiliki sifat-sifat sebagaimana yang dimiliki oleh para sahabat Radhiyallahu’anhum.

Hadirin saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, diri kita telah diciptakan Allah Subhanahu wa ta’ala terdiri dari jasad dan ruhani, namun keduanya memiliki asbab yang berbeda untuk menjamin kesehatan dan kesempurnaan-nya.

Kesalahan yang banyak terjadi dalam diri umat hari ini dapat digambarkan melalui perumpamaan seekor kuda beserta seorang joki yang di kontrak melatih kuda oleh sang manajer untuk mengikuti suatu perlombaan balap kuda. Setahun sebelum perlombaan dimulai sang manajer telah mengontrak joki beserta kudanya dengan harga 100 Juta rupiah Untuk persiapan lomba tahun depan. Perjanjianpun ditanda tangani hitam diatas putih. Maka selang satu bukan semenjak kontrak ditanda tangani, ternyata ibu si joki mengalami sakit keras yang memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit selama di rumah sakit. Singkat cerita uang kontrak yang berjumlah 100 juta rupiah tersebut oleh joki digunakan terlebih dahulu untuk biaya pengobatan ibunya, maka setelah ibunya sembuh giliran harta kekayaan dan uang si joki kini telah habis digunakan untuk seluruh biaya pengobatan sang ibu. Kemudian joki pun menemui sang manajer untuk meminta tambahan atau pinjaman uang untuk biaya pelatihan kuda dan biaya hidupnya. Namun apa yang terjadi? Sang manajer menolak mentah-mentah permintaan joki tersebut dengan alasan perjanjian kontrak tidak boleh berubah.

Kemudian sang joki berkata : “Tapi saya sekarang sudah tidak punya tempat tinggal lagi tuan”

Jawab sang manajer : “Ya itu terserah kamu, kalau kamu mau tinggal ya silakan saja tinggal di kandang kuda sana”

Joki : “Tapi saya juga butuh makan tuan”

Manajer : “Wah itu lagi, itu juga urusan kamu, saya sudah habiskan 100 juta untuk membayar kamu, kalau kamu mau makan, makan saja makanan kuda”

Joki : “tapi saya juga butuh minum tuan”

Manajer : “Minum saja itu minuman kuda”

Sehingga hari demi hari selama masa kontrak sijoki tinggal di kandang kuda, dan makan rumput kuda, minum air mimum kuda. Sampai pada hari H dimana perlombaan akan dilaksanakan, keadaan antara kuda dan joki sangat kontras, Keadaan Kuda gagah dan kuat , sedangkan joki kurus , lemas, sakit-sakitan dan korengan. Maka ketika perlombanan dimulai baru saja start beberapa detik si joki sudah terpental jatuh dari atas kuda , sehingga kuda lari sendiri tak terkendali kesana-kemari.

Demikianlah perumpamaan jasad dan ruhani kita, masing-masing mempunyai makanan , makanan ruhani kita adalah Agama yang sempurna, makanan ruhani kita adalah amal ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita, makanan ruhani kita adalah iman dan amal-amal shaleh kita, sedangkan makanan-makan fisik menyehatkan yang setiap hari kita konsumsi adalah makanan jasad kita.

Dari cerita tersebut yang salah sebenarnya bukan joki,tapi manajernyalah yang kurang paham akan kebutuhan-kebutuhan si joki. Nah manajer itu adalah diri kita saudaraku.

Maka saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kita di dunia ini hanya akan sebentar saja, kalau kita beruntung paling-paling hidup kita 60 - 70 tahun di dunia ini, kalau lebihpun tidak jauh-jauh dari itu. Setelah itu kita akan meniggalkan dunia yang sementara ini menuju kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akhirat yang ada awalnya dan tak ada akhirnya. Sayang jika kita sia-siakan amanat Allah berupa umur kita dengan sia-sia tanpa mengambil perbekalan sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat kita.

Jangan sampai keadaan akhir hidup kita seperti nasib sijoki dan sikuda, bukanya mengantar kepada tujuan, malah akan menyengsarakan diri kita dan hati kita.

Hati tempat jatuhnya pandangan Allah.




0 Responses to “Hati Tempat Jatuhnya Pandangan Allah”


  1. No Comments

Leave a Reply

You must login to post a comment.