Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil ‘alamin,
Allahuma Shalli’ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.
sebagian penjelasan dari ustad Luthfi.
Bismillahirrahmanirrahim
Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.
( Surah Ali-Imran 3:95)
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”(Surah An-Nisa 4:125.)
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".(Surah Al Baqarah 2:130-132)
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Surah Ali-Imran 3:68)
Dan mari kita ceritakan kisahnya Nabi Musa ‘Alayhi salam, Ketika beliau diajarkan kalimat tauhid oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu di lembah suci Thuwa. (Surat Thaha 18:14) Allah telah mengajarkan kepada Nabi Musa ilmu tauhid secara langsung, maka setelah itu Nabi Musa ‘Alayhi salam diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pertanyaan “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan/bersandar padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan/manfaat yang lain padanya". (Surah Thaha 20 : 17-18)
Ternyata Tauhid yang diajarkan kepada nabi Musa belum benar-benar tertanam dalam hatinya, Nabi Musa ‘Alayhi salam masih meyakini bahwa tongkat yang dibawanya adalah miliknya dengan menyebut “ini tongkatku”, kemudian nabi Musa ‘Alayhi salam juga masih meyakini bahwa tongkatnya bisa memberikan manfaat kepadanya (untuk bersandar, dan manfaat-manfaat yang lain)”. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Lemparkanlah ia, hai Musa!" (Surah Thaha 20 : 19), Maka tiba-tiba tongkat berubah menjadi seokor ular yang merayap cepat. Dan Kemudian nabi Musa ‘Alayhi salam diuji oleh Allah dengan diperintahkan untuk memegang ular tersebut untuk menanamkan tauhid dalam hati Nabi Musa. Maka benar ular tersebut menjadi tongkat kembali.
Maka ini merupakan pelajaran berharga bagi nabi Musa ‘Alayhi salam dan bagi kita, bahwasanya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang mampu memberikan manfaat ataupun mudharat. Tongkat yang sebelumnya dianggap mampu memberikan banyak manfaat dengan sekejap mampu Allah buat menjadi sesuatu yang nampak dapat memberi mudharat(ular), begitu pula ular yang begitu ganas dengan sekejap dapat Allah Subhanahu wa Ta’ala buat menjadi sebuah tongkat yang tidak berbahaya lagi.
Belum cukup dengan ujian tersebut, Nabi Musa ‘Alayhi salam mendapat ujian berupa perintah da’wah kepada Fir’aun. Padahal ketika itu Nabi Musa sedang dalam keadaan Takut dikejar oleh Fir’aun karena telah membunuh salah satu anak buahnya secara tidak sengaja. Orang yang saat itu paling ditakuti oleh Nabi Musa ‘Alayhi salam malah Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan nabi Musa untuk mendatanginya, inilah ujian da’wah yang akan membersihkan kesyirikan-kesyirikan dihati Nabi Musa. Maka Nabi Musa tunduk patuh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala melaksanakan da’wah kepada Fir’aun. Maka benar ketika Nabi Musa berda’wah kepada Fir’aun yang mengerahkan para penyihir di seluruh negrinya, maka Nabi Musa dengan izin Allah menunjukan pertolongan Allah yaitu berupa mu’zizat tongkatnya yang mampu berubah kembali menjadi ular besar dan memakan ular-ular palsu buatan para penyhir fir’aun. Maka ketika itu para penyhir Fir’aun mendapatkan hidayah untuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sifat Tauhid Nabi Musa semakin tertanam ketika ia dan para pengikutnya yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dikejar oleh pasukan Fir’aun. Ketika Nabi Musa dan pengikutnya telah terhalang Laut, maka dalam keadaan genting para pengikut nabi Musa berkata "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul" Nabi Musa ‘Alayhi salam berkata “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku" (Asy-Syu’ara: 60-67)
Nabi Musa yang sebelum berda’wah pernah menyebut tongkatnya mampu mendatangkan manfaat-manfaat kepadanya, menjadi tidak terkesan dengan kehebatan tongkat meski sebelumnya tongkat tersebut pernah berhasil menampakan keajaiban-keajaiban, Nabi musa telah lebih yakin dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengatakan "Sesungguhnya Tuhanku besamaku", nabi Musa tidak mengatakan "Sesungguhnya tongkatku bersamaku" atau "Tenang tongkat ajaibku ditanganku", ini karena tauhid sudah terhujam dalam hati Nabi Musa ‘Alayhi salam.
Maka dari sini kita sama-sama dapat ambil hikmah bahwasanya kalimat tauhid baru akan tertanam dalam hati-hati kita jika kita benar-benar sudah diuji dalam medan da’wah.
Maka bagaimana kita latihan mendatangi saudara-saudara kita tetangga tetangga dekat maupun jauh yang mungkin sebelumnya kita ada perasaaan takut, malu dan yang lainnya, maka disitulah tauhid kita akan benar-benar diuji, sejauh mana kita "tidak terkesan" dengan suasana dan keadaan, baik orang kaya maupun orang miskin, yang kasar-kasar atau yang lembut-lembut, kita tetap latihan datangi untuk silaturahim menunaikan hak-hak mereka dan sama-sama nasehat menasehati dan ajak mengajak untuk kembali kepada Allah dengan cara-cara hikmah. Dimulai dari saudara-saudara kita yang sama-sama Muslim, yang pernah sama-sama punya kalimat "Laa ilaaha illallah", bagaimana supaya amal-amal agama yang berupa perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Larangan-Nya dapat sama-sama kita taati.
Jika kita melihat amal-amal agama banyak ditinggalkan oleh tetangga-tetangga kita atau amal ma’siat kemudian kita sama sekali tidak ada kepedulian, maka sama saja kita tidak menghargai agama, tidak menghargai perintah Allah untuk melaksanakan perintah agama. Karena agama akan roboh jika tidak diamalkan, dan akan tegak jika amal-amalnya benar-benar dilaksanakan.
Maka masihkah kita tetap tidak peduli terhadap tetangga-tetangga kita di rumah, di tempat kos, atau di kantor kita yang ramai-ramai meniggalkan amal-amal agama bahkan sebaliknya buat-buat amal-amal ma’siat?
Mari latihan melaksanakan tugas.. mari mari..
Ya Allah.. ampunilah dosa-dosaku.