Tiap kita yang sudah terbiasa menaggapi setiap hal yang menyinggung hati, tanpa disadari hari-hari akan dipenuhi "rasa ingin disinggung".
Sesuatu yang jarang bisa dirasakan manusia karena merupakan rasa bawah sadar. Sudah menjadi sifat manusia bahwasanya apa (sesuatu yang otomatis) yang ada diluar kepala, menyukai sesuatu yang menjadi kebiasaan dalam pikiran, pengetahuan, dan dugaan. sehingga sesuatu yang terasa janggal dan terasa aneh cenderung serta merta ditolak.
Tentu kita boleh tersinggung dan bahkan wajib tersinggung ketika itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita.
Alangkah nikmatnya seorang yang hatinya tidak mudah tersinggung dengan sesuatu yang memang tidak perlu hati tersinggung.
Masalah yang timbul adalah kita sering tersinggung dengan apa saja yang kita sudah biasa tanggapi meskipun hal itu bukan benar-benar sesuatu yang layak untuk membuat kita jadi tersinggung. Bahkan kepada kebenaran pun tiba-tiba hati menjadi serasa ingin berontak.
Masalah yang timbul pada diri kita kebanyakan diawali oleh bisikan setan yang menyuruh kita berontak terhadap sesuatu yang haq dengan dalih tidak sesuai dengan keinginan diri/hawa nafsu yang liar. Diri yang terbiasa mengikuti hawa nafsu, sedikit demi sedikit telah menjadi kawan-kawan setan yang terkutuk, hal ini disebabkan setan telah berhasil memanfaatkan hawa nafsu kita sebagai tangan kanannya yang benar-benar tangguh. Hawa nafsu memang liar jika tidak ditertibkan, maka ingat hawa nafsu perlu untuk kita ditertibkan.
Insya Allah hati kita akan diberikan ketenangan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau kita mau latihan meninggalkan pertengkaran kendatipun seakan kita berada dalam kebenaran.
Oleh karena itu orang tua yang shaleh menasihati para da’i supaya tidak mudah tersinggung ketika terjadi masalah-masalah kecil antar sesama da’i. Ketika kita mendapat tawaran-tawaran ibadah dan da’wah agama terkadang diri-diri kita yang tanpa kita sadari telah sekian lama berisi dan berkawan dengan setan pemberontak, tiba-tiba merasa malas, atau malah ingin melawan dengan memberikan alasan-alasan yang tidak tepat atau alasan-alasan buatan lainnya. Hal ini karena sesuatu yang menuntut pengorbanan selalu berlawanan dengan hawa nafsu kita.
Padahal asas usaha atas Agama yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul yang mengajak kepada Petunjuk Allah adalah didominasi dengan masalah pengorbanan. Sangat menyedihkan ketika melhat diri kita berisi sangat kecil sekali akan pengorbanan-pengorbanan untuk agamanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kisah-kisah pengorbanan para Nabi dan Rasul dapat kita kaji di dalam Al-Qur’an yang mulia.
Seperti kisah Nabi Nuh ‘Alayhi salam yang dengan sabar berda’wah selama 950 ribu tahun, namun hanya beberapa umatnya yang mau beriman.
Kisah Nabi Ayub ‘Alayhi salam dengan kesabaran atas ujian-ujian kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan yang menimpanya,
Kisah Nabi Yusuf ‘Alayhi salam dengan kesabaran dianiaya saudara-saudaranya dan difitnah.
Kisah Nabi Dawud ‘Alayhisalam dan Nabi Sulaiman ‘Alayhisalam yang dikarunia harta kekayaan dan kekuasaan yang luas namun tidak terlena dari beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kisah Nabi Ibrahim ‘Alayhisalam dan Nabi Ismail ‘Alayhisalam dengan segala pengorbanannya dan kesabarannya.
Kisah Nabis Musa ‘Alayhi salam, Kisah Nabi Isa ‘Alayhisalam dan nabi Muhammad Shallalahu’alayhi wa sallam dengan pengorbanan dan cinta kasihnya kepada Umat.
atau kisah-kisah menarik Majnun al-Qais dan Laila.
Ya seperti kisahnya Maj’nun al-Qais dan Laila, Qais mencintai Laila namun apakah yang mampu membuktikan cintanya Qais pada Laila? tidak lain dan tidak bukan melainkan "pengorbanan".
Ketika Qais tiba di kotanya Laila, Qais dengan mesra menciup tembok kota, Qais melakukan hal itu bukan karena cintanya Qais pada tembok kota, namun karena begitu cintanya Qais pada orang yang tinggal didalam kota. Ketika Qais yang jatuh cinta ditanya, "Mana yang lebih engkau cintai antara Laila dibanding harta benda dunia dan seisinya?" Ternyata menurut pandangan Qais harta benda dunia dan seisinya tidaklah layak dibandingkan dengan cintanya kepada Laila, sehingga dengan mantap ia menjawab "Debu-debu yang menempel di sandalnya Laila lebih aku cintai dari pada harta benda dunia dan seisinya."
Kalau kita mau sedikit fikir kisah di atas, betapa besar cinta Qais pada Laila, Meskipun cintanya hanyalah cinta main-main atau cinta syahwaniah, namun cinta tersebut patut untuk kita jadikan pelajaran. Karena kita tahu cinta yang sejati adalah cinta karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, cinta ini adalah cita imaniah , cinta yang tidak perlu melihat pada sesuatu yang dicintai. Jika cinta imaniah ini datang maka mendengar cerita-ceritanya saja sudah timbul perasaan cinta. Seperti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, baru mendengar cerita perjalaanan hidup beliau saja kita sudah cinta, maka bagaimanakah kalau kita bertemu?, maka tidak heran jika cintanya para
Shahabat Radhiyallahu’anhum sangat tinggi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Kembali ke kisah Qais dan Laila, Ketika sang kabilah yakni ayahanda Laila mengetahui kabar bahwa seseorang yang bernama Qais telah tiba
di Kota, maka kabilah memberi pengumuman bahwa siapa orang yang bernama Qais supaya datang ke alun-alun kerajaan jika ia memang berani menikah dengan putrinya. Mengingat Laila adalah putri yang sangat jelita dan terkenal di kota itu, ternyata yang datang ke alun-alun kota sangatlah banyak, maka orang yang tak bernama Qais pun datang dan mengaku-ngaku bernama Qais yang sangat mencintai Liala. Lalu kabilah memberikan syarat barang siapa ingin menikahi putrinya maka harus mengorbankan jari kelingkingnya untuk dipotong. Mendengar syarat yang diberikan oleh kabilah orang-orang yang tadinya mengaku-ngaku dirinya sebagai Qais satu per satu keluar alun-alun dan pulang sambil menggerutu "Waduh.. masak mau menikahi putri kabilah saja musti kehilangan jari kelingking kita? nggak masuk akal.. ya udah deh buat kamu saja deh.. buat kamu aja deh.. " sehingga akhirnya tinggal satu orang Qais asli tertinggal di alun-alun . Lalu dengan mantap Qais berkata "Silahkan tuan kabilah potong dan ambil jari-jari tangan saya jika memang itu yang bisa mendekatkan saya kepada Liala"
Subhanallah.
Jika kita fikir lagi cerita diatas, kendatipun cinta Qais kepada Laila termasuk cinta yang main-main (cinta Syahwaniah), terpapar dengan jelas bahwa bukti cinta seseorang kepada yang dicintainya adalah dengan pengorbanan, maka ketika ramai orang mengaku cinta kepada Allah, cinta kepda Islam, cinta kepada Rasul, akankah hanya segelintir manusia saja yang terbukti cintanya? Seorang da’i sejati dituntut untuk berkorban dengan harta, diri, dan waktunya. Maka bagaimana keadaan da’i - da’i saat ini?
Mungkin secara umum kalau boleh di bedakan ada 2 (dua) jenis gambaran da’i yang beredar saat ini.
Jenis da’i yang pertama, ketika seorang da’i baru saja pulang dari usaha da’wahnya, sesampainya dirumah disambut oleh sang istri dengan pertanyaan "Gimana pak? Dapet uang berapa pak?"
Jenis da’i yang kedua, ketika seorang da’i baru saja pulang dari usaha da’wahnya, sesampainya dirumah disambut oleh sang istri dengan pertanyaan "Gimana pak? Habis berapa pak? bekalnya kurang apa tidak?"
perbedaan yang mendasar dari kedua jenis da’i tersebut adalah da’i pertama menjadikan usaha da’wahnya, usaha agamanya, dan usaha fisabilillah-nya dalam rangka mencari harta benda duniawi, sedangkan da’i kedua mengorbankan harta benda duniawinya untuk berda’wah, dalam rangka usaha agama, dan usaha fisabilillah-nya.
Dan dari kedua jenis da’i tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan pilih mana saja da’i yang akan Dia jadikan sebab turunnya hidayah/petunjuk-Nya dan itu adalah terserah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja bagi da’i itu sendiri akan diberkan balasan dengan apa saja yang di diniatkan dalam usaha da’wahnya.
Jadi, Manakah produk-produk da’i yang populer saat ini?
Dikatakan bahwa nanti di akhirat umat nabi-nabi terdahulu belum akan masuk surga sebelum umat Nabi Muhammad Shallallahu’alayhi wa sallam telah memasukinya.
Pernahkah kita merenung mengapa umatnya Nabi Muhammad Shallallahu’alayhi wa sallam / umat akhir zaman ini di istimewakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala??
jawabannya Karena tugas dan tanggung Jawab umat ini ialah meneruskan tugas para Nabi dan Rasul yaitu berda’wah.
Sekarang Siapa yang bercita-cita menjadi da’i? perlu diketahui bahwa mau atau tidak mau tugas Umat Akhir Zaman yaitu umatnya Nabi terakhir Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah meneruskan usaha para Nabi dan Rasul. Mengajak kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, beriman dan beramal shaleh. Itulah tugas dan ibadah istimewa umat akhir zaman, dan untuk itulah kita diciptakan. Sekali lagi asas usaha da’wah adalah pengorbanan.
Maka mari sedikit-sedikit latihan lagi dan lagi sampai kita tidak ada lagi, setidaknya kita ada keprihatinan pada diri kita sendiri, mengapa sampai saat ini diri kita belum mampu berkorban seperti yang selayaknya kita berkorban.
0 Responses to “Da’i - da’i yang seperti apa?”
Leave a Reply
You must login to post a comment.