Archive for November, 2007

19
Nov

Keluhan-keluhan Suami #2

Oleh : Muhammad Rasyid Al ‘Uwaid (Mudzakkirot Zauj Hazin)
Terjemah : Muhil Dhofir, Lc

Istriku Hobi Belanja

Sering aku berharap, istriku bosan dengan hobi belanjanya. Namun rasanya, harapanku hanya sebatas impian. Belanja sudah menjadi hobinya, bahkan sudah mendarah daging baginya. Ia tidak pernah bosan pulang-pergi ke pasar swalayan.

Suatu hari, saat ia hendak berangkat ke supermarket, aku bertanya, "Ada yang ingin Adik beli?"

Dengan angkuh ia menjawab, "Apa ke supermarket harus menuggu ada yang ingin di beli/’

aku sering menjelaskan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu’alayhi wa sallam menyebut pasar sebagai tempat yang paling buruk dan paling di benci Allah.[1] . Akan tetapi , ia sama sekali tidak menghiraukannya.

Aku semakin sedih ketika mendapati kenyataan bahwa semua atau kebanyakan wanita memiliki hobi belanja.

Penelitian yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa tingkat kesehatan wanita semakin membaik saat berjalan-jalan di swalayan atau pasar. Namun sebaliknya yang dialami laki-laki. Tekanan darahnya semakin naik saat berjalan-jalan di swalayan atau pasar.

Akupun baru membaca tulisan seorang psikolog tentang hobi berbelanja dikalangan wanita. Bahkan ia mnyebutnya dengan sebutan "Demam Belanja". Dalam tulisannya, ia menyebutkan "Bagi wanita berjalan-jalan di supermarket bukanlah sekedar hiburan. Akan tetapi, sebuah kebutuhan mendesak yang menimbulkan rasa nyaman pada dirinya."

Coba dengarkan pengakuan seorang wanita ini. "Saat aku pusing dan gelisah, yang terlintas di benakku adalah jalan-jalan di supermarket. Akhirnya, aku keranjingan untuk pergi ke supermarket.

Jika seorang pemikir memberikan satu ungkapan, "Aku berpikir, berarti aku ada", maka para wanita akan berkata, "Aku membeli, berarti aku ada." Jadi, wanita dan belanja adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Akhirnya, akupun memaklumi istriku yang mempunyai hobi berbelanja. Akan tetapi , aku juga memberikan batasan-batasan, yakni sebagai berikut :

- Ia tidak boleh sendirian pergi ke supermarket. Denganku atau dengan anak-anak agar ia tetap dihormati oleh penjual.

- Jika pergi denganku, aku akan membatasi waktu belanja, sehingga ia tidak bisa berlama-lama.

- Jika anak-anak yang menyertai, maka akupun akan membetasi tempat belanja. Waktunyapun aku pilihkan yang mendekati adzan [2], sehingga waktu belanja sangat sempit.

- Ia kuperbolehkan pergi ke supermarket pada hari-hari libur saja.

- Izin belanja kuberikan setelah ia menyelesaikan tugas yang kuberikan. Dan harus kuakui meskipun hobi belanja itu banyak sisi negatifnya, tapi tidak sedikit pekerjaan yang terselesaikan karena hobi belanja itu.

[1] Jubair bin Muth’im berkta, Rasulullah saw. Bersabda. "Tempat yang paling di sukai Allah adalah masjid. Dan tempat paling di benci Allah adalah pasar." (HR>Muslim, Ahmad, dan Hakim)
[2] Di daerah penulis, Saat azan berkumandang, semua tempat berjualan harus tutup.

Istriku Marah marah saat aku mengundang Teman Untuk makan Siang

Teriakan istriku sangat keras. Sekali dia berteriak, seisi rumah terdiam. Anak-anak yang sedang belajar atau bermain, berhenti. Mereka memandang ibu mereka dengan ketakutan. Akupun diam, tidak melanjutkan pembicaraan dengan istriku. Karena jika aku memberi tahunya , teriakannya akan semakin keras. Aku hanya bersegera menutup pintu dan jendela rapat-rapat, agar teriakan istriku tidak terdengar oleh tetangga.

Saat semuanya tenang, aku berbicara kepada istriku, memintanya untuk tidak berteriak-teriak lagi karena anak-anak ketakutan, dan malu dengan tetangga. Aku juga memberi tahunya bahwa teriakannya tidak sesuai dengan sifatnya yang cerdas, baik, dan tenang.

Istriku menyangkal, "Kapan saya berteriak-teriak. Mas mengada-ada nih!"

Terkadang, istriku mengaku kalau ia telah berteriak-teriak, Tetapi, dia menuduhku dan menuduh anak-anakku menjadi penyebabnya.

Beberapa hari lalu, temanku dari negara tetangga menelpon, memberi tahu bahwa dia sedang berada di kota ini selama beberapa hari. Ketika mengetahui hal itu, aku mengundangnya untuk makan siang di rumahku. Dan, temanku menerima tawaranku dengan senang. Namun, istriku sangat marah. Sampai-sampai, aku harus menutup telepon dengan tanganku agar teriakan-nya tidak terdengar oleh temanku di seberang sana.

Baru saja gagang telepon kuletakkan, istriku berteriak, "Kenapa mengundangnya makan siang? Sengaja mau merepotkan? Dasar! Nggak punya rasa kasihan sama istri."

"Dik, jangan berburuk sangka begitu dong. Sudah empat tahun Mas nggak bertemu dia. Apa salahnya sih Mas mengundangnya makan siang?"

"Empat tahun kek, sepuluh tahun kek, masa bodoh! Mas enak…, Adik nih yang capek!"

"Adik nggak usah repot-repot masak. Mas akan beli sate nanti."

"Ooo.. begitu, ya? Biar teman Mas itu tahu kalau Adik nggak bisa masak?"

"Bagaimana sih Adik ini! katanya nggak mau masak. Saat Mas mau beli, juga nggak boleh. Terus bagaimana? Apa Mas harus menelfon dia, membatalkan undangan makan siang nanti?"

"Eh…, jadi Mas ingin teman Mas bilang, istri Mas yang tidak setuju. Setelah itu teman-teman MAs merasa kasihan kepada Mas karena memeiliki istri yang tidak patuh pada suami. Itu kan yang Mas mau?"

Dalam hatiku aku berkata, BUkankah betul kalau Adik tidak patuh pada suami? "begini saja Dik, mas ajak dia makan di ruumah makan agar Adik nggak terbebani.’

"Itu lebih buruk. teman Mas akan mengira kalau Adik tidak mengehendakinya mengujugi rumah kita."

"Kalau begitu, bagaimana, Dik?"

Dengan nada ketus dia berkata, "Biarkan saja dia datang. Tapi…, lain kali, jangan sampai mengundang orang tanpa persetujuan Adik terlebih dahulu."

"Jadi…, lain kali, Mas bilang ke dia, ‘Sebentar, aku minta izin istriku dulu, apa dia  setuju aku mengundangmu makan siang?"

"Jangan menghina."

"Kalau begitu, bagaimana?"

"Bisa saja kan Mas menundanya sampai bertemu dia atau saat menelpon balik."

"Baik Dik, Mas akan usahakan. Sekarang keperluan apa yang harus Mas beli untuk menjamu tamu kita?"

Itulah kata penutup yang kuucapkan agar perdebatan ini tidak memanjang. Yang penting, aku sudah berhasil membuatnya setuju menerima temanku untuk makan siang di rumah.

=

Sebagai seorang suami, janganlah sampai Anda meminta izin istri terlebih dahulu untuk mengundang seseorang karena kebanyakan istri tidak akan menyetujuinya. Undanglah teman Anda. setelah itu beri tahu istri Anda bahwa Anda telah mengundang teman Anda ke rumah.

Tentu saja ini tidak berlaku secara umum, tidak sedikit istri yang tidak keberatan suaminya mengundang temannya ke rumah. Jika istri Anda termasuk kelompok istri yang seperti ini, sebaiknya anda meminta izinnya. Sebab permintaan izin itu akan membuat istri anda merasa di hormati.

Dan, agar istri Anda tidak keberatan untuk menerima tamu Anda di lain waktu, setelah teman Anda pulang, beri tahu istri Anda bahwa teman Anda menyukai masakannya: harum dan lezat. semua ini akan mengobati rasa lelahnya, dan membuatnya tidak keberatan menerima tamu Anda lain waktu.

=#

BAU

Aku masuk lift di Rumah Susun tempat tinggal kami. Aku mencium bau harum parfum yang membuatku melayang-layang. Rasa capek selepas kerja mendadak sirna.

Dari harumnya yang khas , aku bisa menebak jenis parfum ini. Ya, parfum wanita. Sepertinya, baru saja lift ini dipakai salah seorang wanita penghuni Rumah susun ini.

Aku tersadar, dan terus menerus mengucapkan,

"Laa haula wa laa quwwata illa billah’

Aku ingat sabda Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam : "Wanita yang memakai parfum, lalu berjalan melewati kerumunan laki-laki dengan harapan mereka mencium harum parfumnya, maka dia seorang pezina." (HR.Ahmad, Hakim dan Nasa’i) [1]

Juga sabda beliau ,

"Jika seorang dari kalian (para wanita) menghadiri shalat di masjid, maka janganlah memakai parfum.’ (HR Muslim, Nasa’i, dan Ahmad)

Untung aku tidak mengetahui orangnya , sehingga pikiranku tidak lebih jauh melayang-layang.

Islam memang hebat. Untuk menjaga masyarakat dari bahaya dan kehancuran, Islam melarang kita mendekati hal-hal yang menyebabkan kehancuran.

Lift sudah sampai di lantai empat. Aku bergegas keluar agar tidak semakin terjerat oleh keharuman parfum itu.

Aku sudah di luar lift. Lega rasanya. Seakan aku habis terlepas dari napas setan yang mencoba menyelinap lewat denyut nadiku.

Kupencet bel dua kali berturut-turt agar istriku mengetahui kalau yang datang adalah suaminya. Aku masukan kunci ke lubang pintu dan kuputar. Saat pintu terbuka, bau menyengat langsung menyeruak ke hidungku. Sangat bertolak belakang dengan bau harum yang kudapati dari lift.

Sepertinya, ini bau gorengan bawang putih, bawang merah, dan bahan-bahan lain yang tidak bisa kubedakan satu persatu.

Istriku sama sekali tidak menyambut kedatanganku. Aku pun masuk. Saat aku hendak duduk di ruang tengah, istriku muncul dari dapur dengan membawa semangkok bumbu yang baunya mengusik hidungku.

Tidak ada kemesraan sama sekali. Ia hanya melihat sekilas dan berkata, "Apa kabar?"

Apa aku harus mengatakan kepadanya apa yang sednag berkecamuk di benakku? Apa aku harus mengatakan kepadanya bahwa tadi aku berharap mendapati keharuman seperti di lift, saat aku masuk ke rumah susun?

Jika itu kukatakan kepadanya, pasti dia akan berkata kepadaku, "Mas ini ingin masakan enak dan lezat, tapi tidak mau mencium bau seperti ini. Aneh! Apa kita masak cabai saja agar baunya tidak menyengat? Atau, minyak gorengnya Adik ganti dengan minyak wangi?"

Tentu aku setuju dengan pendapat istriku, Akan tetapi, bukankah masaknya bisa dimulai lebih awal agar selesainya juga tidak terlalu siang.

Andai saja istriku menyelesaikan masaknya lebih awal, lalu menyemprot ruangan dnegan parfum dan mengganti akaiannya dengan pakaian yang bagus. Tentu rasa capeknya kerja bisa terobati.

Lamunanku terpecah oleh suara istriku "Kita tidak punya roti."

Kini aku hampir menjadi gila. Dengan menahan marah, aku berkata, "Kenapa Adik nggak menelpon Mas sebelum Mas keluar kantor?"

Istriku tidak menjawab. Kulihat ia mulai menata piring di meja makan.

Istriku tidak makan roti saat makan siang. Mungkin itu yang menyebabkan ia tidak mengetahui persediaan roti sudah habis.

[1] Shahih Al-Jami’ Ash-Saghir, Hadist no.2701

17
Nov

Keluhan - Keluhan Suami


Oleh : Muhammad Rasyid Al ‘Uwaid (Mudzakkirot Zauj Hazin)
Terjemah : Muhil Dhofir, Lc

Istri dan Buku Bacaanku

Di mata istriku , buku-buku bacaanku bagaikan istri kedua. ia sering berkata, "Sebenarnya , yang menjadi istri mas siapa sih? Aku atau buku-buku itu?"
Semua yang berkaitan dengan buku bacaanku ia benci. Ketika aku masuk rumah membawa buku baru, ia marah seperti sedang melihat makhluk yang menyebalkan. Ketika melihat buku-buku Bacaanku yang bertumpuk, tampaknya ia ingin melemparkan semuanya lewat jendela.

"Mas , dari pada beli buku terus , lebih baik dibelikan hadiah untuk saya."

Ku jawab dengan lembut , "Dik , adakah permintaan Adik yang belum Mas penuhi? Apa sih yang Adik butuhkan? Silakan bilang. Besok Mas Belikan!"

"Kenapa harus menunggu besok? Sekarang kan bisa!"

"Baik! Tapi, Mas makan dulu. Setelah itu, kita pergi."

Istriku menjawab, "Tapi dimana akan Adik taruh barang yang akan adik beli. Buku-buku Mas ada dimana-mana. Di Ruang Tamu, ada; di ruang tidur, ada; di ruang santai, juga ada. Pokoknya , rumah ini sudah penuh dengan buku-buku Mas."

Aku tetap menjawab dengan lembut, "Mas punya solusi, Dik!"

Ia segera menjawab, "Pokoknya , Mas harus menjual buku-buku itu."

"Lho kok di jual? Kita tidak sedang memerlukan tambahan uang!"

"Kalau begitu berikan saja kepada teman-teman Mas."

Dengan tersenyum aku menjawab, "Buku-buku ini sangat berarti bagi Mas. Mas tidak bisa lepas darinya."

"Kalau begitu , taruh saja di kantor Mas."

"Dik, di kantor sudah penuh. Dan Adik kan tahu , kalau Mas membutuhkan buku di rumah."

"Tahu ah! Pusing! Kalu begitu, apa solusinya?"

"Kita panggil tukang kayu, kita bikin rak yang tinggi, yang cukup untuk buku-buku ini, agar tidak berserakan dimana-mana. Bagaimana?"

"Itu kan merusak pandangan."

"Merusak pemandangan? Yang benar?"

"Sudah.. sudah…, nggak bakal menang debat dengan Mas. Cepat makan! Lalu kita pergi ke pasar."

Aku diam. Kok jadi aku yang dituduh mendebat?

"Laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.."

:_D

Ada pelajaran yang saya ambil dari peristiwa ini. Semoga bermanfaat bagi para suami yang mengalami kasus serupa.

Ketika Anda membeli buku, jangan lupa belikan juga barang yang disukai istri Anda. Dengan demikian, perhatiannya tidak tertuju pada buku yang anda beli.

Agar buku-buku Anda tidak memenuhi ruangan, dan agar tidak diacak-acak anak atau istri Anda, buatlah rak yang agak tinggi, yang cukup untuk buku-buku Anda.

:_D

Saat ada tamu istriku pergi

Bagaimana aku tidak kesal, setiap kali ada teman-temanku berkunjung kerumah, istriku pergi meniggalkan rumah.

Sendirian di rumah, tentu kerepotan melayani banyak tamu. Yang ini minta segelas air, yang itu perlu ke kamar kecil, yang lain berpamitan sebelum aku bisa menjamunya dengan baik, dan seterusnya.
"Apa susahnya sih menjamu tamu? Mengambilkan minum, mengantar ke kamar kecil, dan mengajak bicara. Semuanya tidak ada yang berat". Mungkin itu yang akan kamu katakan.
Betul, tidak ada yang berat. Tapi bukankah kita mengetahui bahwa tuan rumah yang baik adalah yang tidak mondar-mandir keluar masuk keluar masuk ruang tamu dan meniggalkan tamunya, untuk keperluan ini dan itu.
Belum lagi untuk menrapikan kamar mandi yang penuh cucian. Sungguh, tidak sedikit waktu yang diperlukan untuk itu.
Begitulah istriku. Setiap kali ada teman-temanku yang berkunjung ke rumah, ia pergi ke rumah tetangga atau ke tempat saudaranya.
Ketika aku menanyakan alasannya, ia menjawab "Mas bisa ngobrol dengan teman-teman Mas di ruang tamu, sedang aku sendirian di ruang dalam. Jadi lebih baik aku pergi mencari teman ngobrol."
Aku sangat berharap agar istriku dn wanita-wanita lain yang berperilaku seperti istriku, merenungkan hal-hal berikut:
-  Kepergia seorang istri yang demikian merupakan kepergian tanpa seizin suami.
-  Sudah menjadi kewajiban seorang istri menyiapkan kebutuhan untuk menjamu tamu suaminya.
-  Bukankah suami menyediakan kebutuhan istrinya ketika ia membutuhkan sesuatu untuk menjamu teman-teman wanitanya? jika demikian, istripun harus menyiapkan kebutuhan suami untuk menjamu teman-teman prianya.
-  Perhatian istri terhadap suami (menyediakan apa yang dibutuhkan suami untuk menjamu tamu-tamunya) adalah ketaatan yang baik, dan berdampak positif terhadap sikap suami terhadap istri.
- Jika saat ada tamu, seorang istri memiliki kepentingan darurat untuk pergi (seperti menjenguk orang tuanya yang sakit), ia masih bisa menyiapkan sebelum pergi, atau meminta suami untuk menjamu tamu-tamunya dirumah makan atau tempat lain. Dalam kondisi seperti ini, suami pasti akan menerima.

:_D

Banyak Makanan yang membusuk

Sudah lima belas tahun aku berumah tangga. Namun, sampai saat ini, aku belum bisa mengatasi membusuknya banyak makanan di rumahku.

Buah-buahan yang kubeli, ditumpuk begitu saja oleh istriku di dapur. Ia tidak segera memilah-milah dan memasukannya ke lemari es. Setelah lima hari, ia baru membuka kardus buah tersebut. Tentu saja sebagian buah telah membusuk. Ia berteriak, "Mas , ngapain buah-buahan busuk begini, dibeli?"

Dengan menahan marah, aku manjawab dengan lembut , "Dik, buah-buahan itu busuk sejak Mas beli, atau karena Adik biarkan di kardus terlalu lama, sehingga jadi busuk?"

Aku lihat pisang yang kubeli masih segar, kini kulitnya sudah menghitam. "Dik, dulunya pisang di pohon, lalu dipetik leh para petani dan dimasukan ke kotak-kotak kardus. diangkut melalui darat, laut, dan udara, untuk sampai ke negeri kita. setelah itu para distributor menjualnya ke pengecer, beberapa hari yang lalu Mas membeli pisang ini. setelah melalui proses yang begitu panjang, sekarang pisang ini membusuk dan akan Adik buang ke tempat sampah. Bukankah ini menyedihkan?"

"Aaah.., Mas ini. Pisang hanya beberapa buah urusannya dibuat besar."

"Dik, kenapa sih pisang-pisang ini tidak Adik berikan kepada anak-anak. Mereka kan suka pisang?"

Dengan mudah ia menjawab, "Adik tidak pernah memaksa anak-anak untuk memakan sesuatu. Biarkan mereka memilih apa yang mereka sukai."

Dik, kalau Adik tidak tidak mengeluarkan pisang atau buah-buahan dari kardus, mereka tidak akan tahu kalau kardus itu ada buah-buahan."

Ketika ia sudah tidak betah dengan nasihatku, ia berkata, "Kalau Mas keberatan buah-buahan ini membusuk, ya jangan beli buah-buahan."

Susu segar juga begitu. Sering kali ditaruh begitu saja diluar kulkas. Akhirnya basi. Tanpa rasa berat, ia tumpahkan susu basi itu di tempat cucian.

Nasib yang sama juga menimpa makanan hasil masakanannya. Sering makanan-makanan itu masuk ke tempat sampah. Istriku sering masak secara berlebihan, sehingga selalu ada sisa.

Andai saja istriku memahami ajaran Islam yang menegaskan pentingnya mensyukuri nikmat. Allah telah memberikan kepada kita nikmat makan dan minuman. Sebagai rasa syukur kita kepada-Nya, kita tidak boleh membuang-buang makanan, meskipun kita mampu membelinya kapan dan dimana saja.
Jika anak belum bisa ke dapur mengambil apel dan mengupasnya, apa sih beratnya bagi seorang ibu untuk mengupaskan dan memotongkannya kecil-kecil agar si anak mudah memakannya. Atau, bisa dicampur dengan buah-buahan lain dan dijadikan es buah. Yang penting, bagaimana caranya agar buah-buahan itu tidak terbuang. Bagi seorang istri , jika mau tentu tidak akan kehabisan cara untuk memanfaatkannya. Sayang kan kalau buah-buahan yang banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh itu di sia-siakan?.

Jilbab Istriku dan Rasa Cemburu.

Sejak Kecil, Sebelum menikah denganku, istriku sudah memakai pakaian yang menutup auratnya dengan baik. Hanya saja, kadang-kadang dia ceroboh. Ketika ia menggendong anak kami, tanpa disadarinya jilbabnya terangkat. Atau, tali gendongan membuat pakaiannya menempel sehingga bentuk tubuhnya terlihat. Atau, si anak menarik penutup wajah atau jilbabnya.

Melihat itu, aku marah Supaya kemarahanku tidak diketahui orang lain, aku hanya bisa berbisik kepada istriku agar tidak ceroboh.

Lain waktu, ketika dia megambil barang di swalayan, di rak yang agak tinggi, lengan tangannya kelihatan. Aku berbisik kepadanya, "Jika ada barang di tempat yang tinggi yang mau Adik beli, biar Mas yang ambil."

Sepulang dari swalayan, aku berkata kepadanya, "Mas kan sudah bilang berkali-kali, manset lengan baju Adik itu sebaiknya dikecilkan. Bisa pakai kancing atau karet. Atau, Adik pakai deker."

Lebih parah dari itu, ketika penjual menyodorkan barang yang diminta istriku, tangan keduanya bersentuhan. Melihat kejadian itu, aku tidak bisa menahan emosi, tangan istriku langsung kutarik dan kuajak meninggalkan kios tersebut.

Saat duduk di mobil di sebelahku, ia membuka penutup wajahnya. "Mas, nggak apa-apa kan Adik membuka penutup wajah. Adik ingin menikmati angin sepoi-sepoi ini. Mobil lain kan jauh. sopirnya juga sibuk menyetir. nggak bakal melihat ke sini.’

Aku tidak melarangnya karena rasa kasihan menyelimuti hatiku. Ketika berhenti di lampu merah, aku perhatikan para sopir dan penumpang mobil lain. Ternyata mereka sedang menikmati wajah istriku. Mereka baru menghentikan pandangan mereka setelah kupelototi.