Oleh : Muhammad Rasyid Al ‘Uwaid (Mudzakkirot Zauj Hazin)
Terjemah : Muhil Dhofir, Lc
Istriku Hobi Belanja
Sering aku berharap, istriku bosan dengan hobi belanjanya. Namun rasanya, harapanku hanya sebatas impian. Belanja sudah menjadi hobinya, bahkan sudah mendarah daging baginya. Ia tidak pernah bosan pulang-pergi ke pasar swalayan.
Suatu hari, saat ia hendak berangkat ke supermarket, aku bertanya, "Ada yang ingin Adik beli?"
Dengan angkuh ia menjawab, "Apa ke supermarket harus menuggu ada yang ingin di beli/’
aku sering menjelaskan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu’alayhi wa sallam menyebut pasar sebagai tempat yang paling buruk dan paling di benci Allah.[1] . Akan tetapi , ia sama sekali tidak menghiraukannya.
Aku semakin sedih ketika mendapati kenyataan bahwa semua atau kebanyakan wanita memiliki hobi belanja.
Penelitian yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa tingkat kesehatan wanita semakin membaik saat berjalan-jalan di swalayan atau pasar. Namun sebaliknya yang dialami laki-laki. Tekanan darahnya semakin naik saat berjalan-jalan di swalayan atau pasar.
Akupun baru membaca tulisan seorang psikolog tentang hobi berbelanja dikalangan wanita. Bahkan ia mnyebutnya dengan sebutan "Demam Belanja". Dalam tulisannya, ia menyebutkan "Bagi wanita berjalan-jalan di supermarket bukanlah sekedar hiburan. Akan tetapi, sebuah kebutuhan mendesak yang menimbulkan rasa nyaman pada dirinya."
Coba dengarkan pengakuan seorang wanita ini. "Saat aku pusing dan gelisah, yang terlintas di benakku adalah jalan-jalan di supermarket. Akhirnya, aku keranjingan untuk pergi ke supermarket.
Jika seorang pemikir memberikan satu ungkapan, "Aku berpikir, berarti aku ada", maka para wanita akan berkata, "Aku membeli, berarti aku ada." Jadi, wanita dan belanja adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Akhirnya, akupun memaklumi istriku yang mempunyai hobi berbelanja. Akan tetapi , aku juga memberikan batasan-batasan, yakni sebagai berikut :
- Ia tidak boleh sendirian pergi ke supermarket. Denganku atau dengan anak-anak agar ia tetap dihormati oleh penjual.
- Jika pergi denganku, aku akan membatasi waktu belanja, sehingga ia tidak bisa berlama-lama.
- Jika anak-anak yang menyertai, maka akupun akan membetasi tempat belanja. Waktunyapun aku pilihkan yang mendekati adzan [2], sehingga waktu belanja sangat sempit.
- Ia kuperbolehkan pergi ke supermarket pada hari-hari libur saja.
- Izin belanja kuberikan setelah ia menyelesaikan tugas yang kuberikan. Dan harus kuakui meskipun hobi belanja itu banyak sisi negatifnya, tapi tidak sedikit pekerjaan yang terselesaikan karena hobi belanja itu.
[1] Jubair bin Muth’im berkta, Rasulullah saw. Bersabda. "Tempat yang paling di sukai Allah adalah masjid. Dan tempat paling di benci Allah adalah pasar." (HR>Muslim, Ahmad, dan Hakim)
[2] Di daerah penulis, Saat azan berkumandang, semua tempat berjualan harus tutup.
Istriku Marah marah saat aku mengundang Teman Untuk makan Siang
Teriakan istriku sangat keras. Sekali dia berteriak, seisi rumah terdiam. Anak-anak yang sedang belajar atau bermain, berhenti. Mereka memandang ibu mereka dengan ketakutan. Akupun diam, tidak melanjutkan pembicaraan dengan istriku. Karena jika aku memberi tahunya , teriakannya akan semakin keras. Aku hanya bersegera menutup pintu dan jendela rapat-rapat, agar teriakan istriku tidak terdengar oleh tetangga.
Saat semuanya tenang, aku berbicara kepada istriku, memintanya untuk tidak berteriak-teriak lagi karena anak-anak ketakutan, dan malu dengan tetangga. Aku juga memberi tahunya bahwa teriakannya tidak sesuai dengan sifatnya yang cerdas, baik, dan tenang.
Istriku menyangkal, "Kapan saya berteriak-teriak. Mas mengada-ada nih!"
Terkadang, istriku mengaku kalau ia telah berteriak-teriak, Tetapi, dia menuduhku dan menuduh anak-anakku menjadi penyebabnya.
Beberapa hari lalu, temanku dari negara tetangga menelpon, memberi tahu bahwa dia sedang berada di kota ini selama beberapa hari. Ketika mengetahui hal itu, aku mengundangnya untuk makan siang di rumahku. Dan, temanku menerima tawaranku dengan senang. Namun, istriku sangat marah. Sampai-sampai, aku harus menutup telepon dengan tanganku agar teriakan-nya tidak terdengar oleh temanku di seberang sana.
Baru saja gagang telepon kuletakkan, istriku berteriak, "Kenapa mengundangnya makan siang? Sengaja mau merepotkan? Dasar! Nggak punya rasa kasihan sama istri."
"Dik, jangan berburuk sangka begitu dong. Sudah empat tahun Mas nggak bertemu dia. Apa salahnya sih Mas mengundangnya makan siang?"
"Empat tahun kek, sepuluh tahun kek, masa bodoh! Mas enak…, Adik nih yang capek!"
"Adik nggak usah repot-repot masak. Mas akan beli sate nanti."
"Ooo.. begitu, ya? Biar teman Mas itu tahu kalau Adik nggak bisa masak?"
"Bagaimana sih Adik ini! katanya nggak mau masak. Saat Mas mau beli, juga nggak boleh. Terus bagaimana? Apa Mas harus menelfon dia, membatalkan undangan makan siang nanti?"
"Eh…, jadi Mas ingin teman Mas bilang, istri Mas yang tidak setuju. Setelah itu teman-teman MAs merasa kasihan kepada Mas karena memeiliki istri yang tidak patuh pada suami. Itu kan yang Mas mau?"
Dalam hatiku aku berkata, BUkankah betul kalau Adik tidak patuh pada suami? "begini saja Dik, mas ajak dia makan di ruumah makan agar Adik nggak terbebani.’
"Itu lebih buruk. teman Mas akan mengira kalau Adik tidak mengehendakinya mengujugi rumah kita."
"Kalau begitu, bagaimana, Dik?"
Dengan nada ketus dia berkata, "Biarkan saja dia datang. Tapi…, lain kali, jangan sampai mengundang orang tanpa persetujuan Adik terlebih dahulu."
"Jadi…, lain kali, Mas bilang ke dia, ‘Sebentar, aku minta izin istriku dulu, apa dia setuju aku mengundangmu makan siang?"
"Jangan menghina."
"Kalau begitu, bagaimana?"
"Bisa saja kan Mas menundanya sampai bertemu dia atau saat menelpon balik."
"Baik Dik, Mas akan usahakan. Sekarang keperluan apa yang harus Mas beli untuk menjamu tamu kita?"
Itulah kata penutup yang kuucapkan agar perdebatan ini tidak memanjang. Yang penting, aku sudah berhasil membuatnya setuju menerima temanku untuk makan siang di rumah.
=
Sebagai seorang suami, janganlah sampai Anda meminta izin istri terlebih dahulu untuk mengundang seseorang karena kebanyakan istri tidak akan menyetujuinya. Undanglah teman Anda. setelah itu beri tahu istri Anda bahwa Anda telah mengundang teman Anda ke rumah.
Tentu saja ini tidak berlaku secara umum, tidak sedikit istri yang tidak keberatan suaminya mengundang temannya ke rumah. Jika istri Anda termasuk kelompok istri yang seperti ini, sebaiknya anda meminta izinnya. Sebab permintaan izin itu akan membuat istri anda merasa di hormati.
Dan, agar istri Anda tidak keberatan untuk menerima tamu Anda di lain waktu, setelah teman Anda pulang, beri tahu istri Anda bahwa teman Anda menyukai masakannya: harum dan lezat. semua ini akan mengobati rasa lelahnya, dan membuatnya tidak keberatan menerima tamu Anda lain waktu.
=#
BAU
Aku masuk lift di Rumah Susun tempat tinggal kami. Aku mencium bau harum parfum yang membuatku melayang-layang. Rasa capek selepas kerja mendadak sirna.
Dari harumnya yang khas , aku bisa menebak jenis parfum ini. Ya, parfum wanita. Sepertinya, baru saja lift ini dipakai salah seorang wanita penghuni Rumah susun ini.
Aku tersadar, dan terus menerus mengucapkan,
"Laa haula wa laa quwwata illa billah’
Aku ingat sabda Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam : "Wanita yang memakai parfum, lalu berjalan melewati kerumunan laki-laki dengan harapan mereka mencium harum parfumnya, maka dia seorang pezina." (HR.Ahmad, Hakim dan Nasa’i) [1]
Juga sabda beliau ,
"Jika seorang dari kalian (para wanita) menghadiri shalat di masjid, maka janganlah memakai parfum.’ (HR Muslim, Nasa’i, dan Ahmad)
Untung aku tidak mengetahui orangnya , sehingga pikiranku tidak lebih jauh melayang-layang.
Islam memang hebat. Untuk menjaga masyarakat dari bahaya dan kehancuran, Islam melarang kita mendekati hal-hal yang menyebabkan kehancuran.
Lift sudah sampai di lantai empat. Aku bergegas keluar agar tidak semakin terjerat oleh keharuman parfum itu.
Aku sudah di luar lift. Lega rasanya. Seakan aku habis terlepas dari napas setan yang mencoba menyelinap lewat denyut nadiku.
Kupencet bel dua kali berturut-turt agar istriku mengetahui kalau yang datang adalah suaminya. Aku masukan kunci ke lubang pintu dan kuputar. Saat pintu terbuka, bau menyengat langsung menyeruak ke hidungku. Sangat bertolak belakang dengan bau harum yang kudapati dari lift.
Sepertinya, ini bau gorengan bawang putih, bawang merah, dan bahan-bahan lain yang tidak bisa kubedakan satu persatu.
Istriku sama sekali tidak menyambut kedatanganku. Aku pun masuk. Saat aku hendak duduk di ruang tengah, istriku muncul dari dapur dengan membawa semangkok bumbu yang baunya mengusik hidungku.
Tidak ada kemesraan sama sekali. Ia hanya melihat sekilas dan berkata, "Apa kabar?"
Apa aku harus mengatakan kepadanya apa yang sednag berkecamuk di benakku? Apa aku harus mengatakan kepadanya bahwa tadi aku berharap mendapati keharuman seperti di lift, saat aku masuk ke rumah susun?
Jika itu kukatakan kepadanya, pasti dia akan berkata kepadaku, "Mas ini ingin masakan enak dan lezat, tapi tidak mau mencium bau seperti ini. Aneh! Apa kita masak cabai saja agar baunya tidak menyengat? Atau, minyak gorengnya Adik ganti dengan minyak wangi?"
Tentu aku setuju dengan pendapat istriku, Akan tetapi, bukankah masaknya bisa dimulai lebih awal agar selesainya juga tidak terlalu siang.
Andai saja istriku menyelesaikan masaknya lebih awal, lalu menyemprot ruangan dnegan parfum dan mengganti akaiannya dengan pakaian yang bagus. Tentu rasa capeknya kerja bisa terobati.
Lamunanku terpecah oleh suara istriku "Kita tidak punya roti."
Kini aku hampir menjadi gila. Dengan menahan marah, aku berkata, "Kenapa Adik nggak menelpon Mas sebelum Mas keluar kantor?"
Istriku tidak menjawab. Kulihat ia mulai menata piring di meja makan.
Istriku tidak makan roti saat makan siang. Mungkin itu yang menyebabkan ia tidak mengetahui persediaan roti sudah habis.
[1] Shahih Al-Jami’ Ash-Saghir, Hadist no.2701