Ternyata mata dan telinga kita ini bagaikan web browser, otak dan hati kita pun layaknya memori penyimpan content/apa-apa yang kita lihat kita baca , kita tahu indera yang dititipkan kepada kita merupakan suatu sistem yang mempunyai input , proses. dan output data. Seperti halnya diri kita yang cenderung meniru apa-apa yang sering dilihat dan kita dengar. Sekedar bercerita dahulu ketika masih belajar dibangku sekolah pernah mengalami masa-masa dimana teman-teman suka menirukan gaya pelawak srimulat kalau tidak salah kata-kata yang sering diucapkan ketika itu adalah kata “gilo le“ yang maksudnya plesetan dari kata “gile lo“, kata guyonan yang waktu itu berulang kali diucapkan , jadi sadar deh kalau saat itu sudah jadi korban mode suaranya srimulat
Sekali lagi ini membuktikan bahwa kegemaran kami nonton srimulat pada waktu itu membuat kami cepat sekali mengeluarkan kata-kata leluconnya srimulat.
Bicara mengenai Web browser tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Jika di internet kita berselancar dengan sebuah web browser, entah itu IE, Firefox, Opera, atau yang lainnya, maka setiap kali kita membuka halaman suatu situs web, web browser akan secara otomatis melakukan caching atau penyimpanan sementara content atau isi halaman web tersebut. cache yang tersimpan inilah yang akan mempercepat akses pada halaman yang sebelumnya pernah diakses, misalkan saja menyediakan content pada menu "back" atau "history". Tentunya cache yang ada hanya dapat diakses oleh web browser pada komputer yang menjalankan browser tersebut. Pada kenyataannya saat ini hampir disetiap institusi yang mempunyai akses internet, para administratornya telah me
mepunyai insiatif membuat cache server untuk menyediakan cache yang dapat diakses oleh para pengguna komputer yang ada dalam jaringan, biasanya cache server ini menjadi satu dengan proxy server. Dengan cache server ini diharapkan koneksi internet lebih optimal, letak optimasi-nya adalah meningkatnya kecepatan respon koneksi terhadap request content yang diinginkan.
Konsepnya rada mirip dengan mata telinga, dan mulut kita, yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengaruniai kita dua mata dan dua telinga serta satu lisan, yang mempunyai fungsi sebagai input (melihat dan mendengar) dan output(bicara).
Kalau dilihat dari jumlahnya sepertinya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk lebih banyak melihat dan mendengar ketimbang bicara, tentunya bukan berarti kita musti melulu sedikit bicara, namun lebih cenderung pada pengertian mendorong kita untuk lebih banyak belajar dari apa yang kita dengar dan kita lihat/baca. Sekarang tinggal content apa yang akan lebih sering kita isikan kedalam otak dan hati dalam pembelajaran kita supaya output kita diridhai Allah Ta’ala. Kalau teman-teman lihat dua postingan saya sebelumnya merupakan tulisan dari teman-teman yang menurut saya sangat menggugah jiwa, dapat memberi sedikit semangat hati. dan dapat memberi manfaat dengan nasehat-nasehat yang ada khususnya bagi diri saya sendiri, itulah sebenarnya yang juga kita butuhkan supaya disaat kita membutuhkan nasehat kita akan mudah mendapatkannya, dengan syarat sering-sering diakses dan dibaca saja nasehat tersebut..
Pernahkah kita memikirkan kata-kata apa saja yang mudah sekali muncul dari mulut kita secara otomatis, baik kepada teman kita, saudara kita, orang tua kita, teman kerja kita, bos kita dsb, bisa jadi itu merupakan gambaran content-content tersimpan dalam memory cache kita . Lantas kalau wujud content/isi dari cache memory yang ada diotak dan hati dikaitkan dengan akhlak kita apa sih kaitannya? kira-kira apa pengaruhnya terhadap akhlak kita? Sebelum menjawabnya terlebih dahulu kita lihat apa itu definisi akhlak, Ada yang mendefinisikan bahwa akhlak itu adalah budipekerti, tindak tanduk / behavior kita sehari-hari, ada juga yang menggambarkan mengenai kemuliaan aklhak melalui sebuah puisi cantik "Akhlak adalah bunga diri, indah dilihat oleh mata, senang dilihat oleh hati, setiap orang jatuh hati", ada juga yang mendefinisikan bahwa akhlak adalah respon spontan terhadap sesuatu, kalau Imam Al Ghozali sendiri mendefinisikan : “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang, mudah, spontan tanpa pertimbangan“. Dari beberapa pengertian di atas nampaknya memang sangat erat kaitan memory cache kita dengan akhlak kita.
Lantas apa sih yang sering kali kita akses? apa yang teman-teman dekat kita sering akses? Sebagai contoh jika dalam suatu komunitas jamaah/jaringan komputer sering melakukan akses pada situs berita detik.com , maka akan terdapat banyak cache content halaman berita detik.com pada cache server , sehingga mempercepat akses kesitus detik.com . Sebaliknya jika user jarang mengakses situs detik.com maka ketika akan melakukan akses ke detik.com untuk pertama kalinya akan terasa lebih berat. Seperti halnya seseorang yang jarang sekali ingat kepada Allah, jarang sekali menyebut nama Allah, maka giliran butuh menyebut nama Allah akan terasa sangat kelu di mulut, bahkan ingin menyebut kata Tuhan saja kadang nggak sampai dapat content katanya , sehingga akhirnya puas dengan menyebut “Yang Di Atas“ .
Jadi Content apa yang akan kita cari? mau diisi apa otak dan hati kita?
Apa yang kita harapkan dapat kita ucapkan secara otomatis ketika sakaratul maut? tentunya diri kita juga yang paling tahu kata-kata yang sering kita ucapkan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk banyak berdzikir/mengingat dan menyebut nama-Nya.
Carilah dzikir-dzikir yang terbaiik dan utama.