Archive for February, 2007

28
Feb

Curhatnya Tata

Assalamu’alaykum wr.wb.

Ini Curhatnya mas/mbak Tata di salah satu milis Islam (myquran@googlegroups.com) , serta tanggapan dan nasehat2 yang ada.  Semoga bermanfaat

Date : Dec 12 2006, 1:02 pm
From: "tata" <casiao…@yahoo.com>

Subject:: coer-heart-ku

tolong lah ajari aku bagaimana caranya ikhlas dan sabar dalam menerima
ketetapan Allah…aku takut Allah marah karena aku dinilai nggak ikhlas
dan sabar dalam menerima keputusannya…dan hanya bisa mengeluh…
walaupun tak ada niatku untuk mengeluh..nggak ikhlas dan tidak sabar…
namun seringnya aku bingung harus bersikap bagaimana…

aku selalu berusaha melakukan apapun dengan baik…tapi hampir selalu
aku hanya menerima kegagalan. begitu terus…sampai aku berfikir…apa
aku emang diciptakan hanya untuk menikmati kegagalan demi kegagalan ?

hampir selalu apa yang aku mohon kan..apa yang aku inginkan tidak
terwujud..tidak terkabulkan..meski yang ku pinta hanya hal sederhana
yang mungkin bagi org lain tak perlu diminta..dia akan langsung
dapatkan.apa iya emang begitulah seharusnya yang aku terima ?

sering aku introspeksi diri…dimana lagi salahku ini ? dan perubahan
demi perubahan aku coba lakukan…tapi tetap saja hasilnya begitu
begitu aja :(

batin ini selalu bertarung…suatu sisi batin ini selalu mengingatkanku
untuk selalu bersabar…berusaha lagi… bersabar lagi…dan
mengingatkanku akan janji2 Allah..ttg hidup..ttg rejeki..ttg segala
hal..mengingatkan ku bagaimana sikap2 dan tindakan yang disukai
Allah…berusaha selalu berbaik sangka pada Allah..

tapi realita yang kuhadapi…bikin sisi batin yang lain sering
mengeluh..berputus asa…kecewa..sedih..dan sebagainya…

tolonglah aku…aku nggak tahan lagi mengalami semua keresahan
ini…aku hanya ingin menjalani hidup ini sesuai aturan Allah…dengan
penuh kebahagiaan…karena Aku takut murka Allah..aku takut siksa Allah
(mungkin keinginanku ini bagi sebagian org dianggap nggak ihklas dalam
beribadah..tapi jujur emang ini yang aku rasa..aku nggak bisa
boong..baru segitu aku bisa)..

tapi semakin aku ingin ‘berjalan’ sesuai aturan …semakin sering
deraan menerpaku sampai aku pikir..kenapa aku nggak diberi kesempatan
dulu menikmati hasil usahaku dlam berusaha dekat pada Allah…minimal
ijinkan dulu aku kuat untuk menghadapi ‘deraan’ yang baru…
kalau seperti ini…aku ibarat org yang jatuh..baru mulai berdiri tapi
harus jatuh lagi…kapan aku bisa berjalan ?

aku sendiri…aku butuh teman untuk mengajariku..
banyak hal yang tak aku mengerti… :(

pleasee…

=====================================================            

Tanggapan I :   
            
Oleh : Fatchur Berlianto      

Flashback!!! <http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/12/12/flashback/>

Membaca curhatnya Tata jadi
inget fatchur jaman dulu. Sudah biasa, semua hal yang bila orang lain
membutuhkan dengan mudah mereka dapatkan, beda dengan fatchur. Walau sudah
mati-matian meminta dan usaha, belum tentu didapat.

Setelah lulus SMEA, tibalah titik puncaknya, orang tua sudah tidak mampu
lagi membiayai, mereka hanya bilang, "hanya segini kemampuan kami, sekarang
jika kamu ingin sesuatu, berusahalah sendiri". Bahkan hanya untuk secangkir
teh, aku harus rela membantu mencuci piring dirumah tetangga!

Dear Tata, waktu itu aku cuma mau dua hal, kerja atau kuliah. Tiap shalat,
ada bagian doaku yang kupanjatkan, "Ya Allah berikanlah aku kemampuan
menafkahi diriku sendiri" dan bagian doa yang lain, "Ya Allah luluskanlah
aku diujian masuk STAN nanti."

Berbulan-bulan kunantikan do’aku dikabulkan Allah, entah berapa lamaran
pekerjaan kukirim, tak satupun yang membuatku mendapat pekerjaan. Melihat
pengumuman masuk STAN, pupus sudah harapan untuk bisa menjadi mahasiswa yang
beruntung dengan kuliah gratis. Entah salah dimana, kurasa aku bisa
mengerjakan semua soal. Tapi tak kuhentikan doaku, semoga Allah meluluskan
aku diujian masuk STAN tahun depan.

Enam bulan pertama, aku bekerja sebagai penjaga kavling di Tingal Garden
Centre, di Desa Sawah Baru Ciputat. Alhamdulillah, tapi gajiku cuma 40ribu.
Saat kuterima gaji, benakku berkata, "Ya Allah segini rejekiku, sesungguhnya
aku meragukan apakah aku cukup dengan uang segini? apa aku bisa menikah?". Tapi
tak kuhentikan doaku, semoga Allah melapangkan rejekiku di bulan depan.

Terus bekerja semampu yang ku bisa. Semua doa terus terucap. Aku tidak
menyadari kalau sebenarnya Allah telah merubahku sedikit-demi sedikit. Tak
kusadari gajiku merambah naik, jabatanpun naik jauh berbeda saat aku masuk.
Bukan lagi fatchur penjaga kavling yang bersihin kavling, buang sampah,
siram pupuk dan insectisida. Tapi tak kuhentikan doaku, semoga Allah terus
melapangkan rejekiku dan Semoga Allah memberikan kelulusan di ujian masuk
STAN.

Setelah satu setengah tahun bekerja, ku coba ikut  ujian masuk STAN, ini
ujian terakhirku, setelah ujian ini sudah habis kesempatanku untuk bisa ikut
ujian masuk STAN.  Sungguh-sungguh ku meminta, kutumpahkan seluruh keluh
kesahku, sampai mataku kering tak mampu lagi mengeluarkan air, "Ya Allah
kabulkanlah".

Tibalah hari pengumuman, sudah pesimis, aku ga mau pergi ke jurangmangu
untuk melihat pengumuman. Ibuku memaksa, "Kamu harus lihat!", sampai-sampai
ia mengantarku ke jurangmangu untuk melihat hasil tes.

Kucari namaku dari daftar nama yang paling bawah, karena ku yakin aku pasti
tidak lulus karena memang tidak mampu, lihat para pesainku mereka fresh
graduate, aku? dah dua tahun ga sekolah… Terus ku telusiri lembar-lembar
pengumuman tinggal satu lembar dan namaku ga ada. Sudah lemas sendi-sendi,
yakin sudah aku ga lulus.

Sampai pada nama terakhir di paling atas daftar, ternyata namaku…. "Ya Allah
setelah hampir tiga tahun aku berdoa, sekarang do’aku terkabul", sujud
syukur kupanjatkan, kusampaikan berita gembira ini untuk ibuku.

Dear Tata, ga ada yang ga mungkin buat Allah. Jangan pernah putus harapan
dari kasih sayang Allah. Teruslah berusaha dan jangan kendor doanya. Kisah
si fatchur itu cuma salah satu contoh dari jutaan contoh lain.

Sabar, mungkin ini juga ujian buatmu.

Semoga Allah memudahkan urusanmu. Jangan patah semangat ya.


Ilmu yang kamu miliki tidaklah cukup; kamu harus mengamalkannya.
Niat tidaklah cukup; kamu harus melaksanakannya.
http://baiturrahmah.blogsome.com/

=====================================================   

       

Tanggapan ke-2 :       
       
Oleh : abdur rachman      

Bismillah

memang sabar dan Ikhlas memang mudah untuk di ucapkan tapi untuk
melakukannya mungkin lebih berat dari sholat tahajut tiap malam, wiridan 100
x , bahkan sampai ribuan kali.

ketika kita menerima sesuatu musibah atau apa yang tidak sesuai dengan apa
yang sahabat harapkan, Yakinlah bahwa Allah menyayangi Anda, Allah tidak
pernah memberi apa yang kita minta tetapi Allah memberikan Apa yang kita
butuhkan.
- kita meminta mobil, tapi Allah Tau kita tidak butuh Mobil dan mempunyai
mobil akan brdampak negatif dengan kita.
- kita mencintai seseorang, tetapi pada akhirnya orang itu bukan jodoh Kita,
- yakinlah bahwa Allah kelak akan memberikan yang terbaik bagi kita,  Allah
lebih tau tentang kita dari pada kita. Allah mengetahu segala sesuatu yang
tersembunyi sedangkan kita.

salah satu yang kan buat kita bisa belajar sabar dan ikhlas adalah Selalu
berprasangka Baik pada Allah and yakin bahwa Allah selalu berikan yang
terbaik pada kita.

lakukan dengan benar, sabar dan Ikhlas.

rgds
rachman

=====================================================   

Tanggapan ke-3 :       
       
Oleh : ita Soviana      

Wah.. curhat mu seakan2 memceritakan perjalanan hidup ku.. jatuh bangun dan jatuh lagi tp some day saya yakin insyaallah… kamu aku dan orang2 yang seperti kita akan bisa berjalan kembali krn Allah senantiasa dekat dengan kita… Amien..

=====================================================   

Tanggapan ke-4 :

Oleh : Hadi Hermawan      

Ikhlas itu gampang-gampang mudah.

Artinya kalau beribadah ya jangan minta balasan apa-apa ? ibadah itu banyak
bentuknya ? artinya kalau nolongin org jangn minta balasan ? atau mengharap
surga  ? atau takut karena neraka allah

=====================================================   

Tanggapan ke-5 :

Oleh : Armansyah

Mbak Tata., hidup memang penuh ujian dan lika-likunya.
Tidak semua kita bahkan bisa mengerti dan mengikuti alur proses kehidupan secara alamiah, banyaknya rintangan dan kendala terkadang membuat kita tersedak dan berhenti melangkah atau berbalik arah memutar tujuan.

Ketetapan Allah itu selalu selaras dengan batasan-batasan insaniah yang ada, Dia tidak akan memikulkan beban yang Dia anggap tidak akan mampu bagi kita menanggungnya.

Sedikit berbagi advice : jalani saja hidup dengan penuh senyuman, terimalah kenyataan dengan lapang dada, berusahalah memaafkan apa-apa yang tidak sesuai dengan rencana awal kita, ibarat orang minum jamu, ya telan saja pahit-pahitnya, InsyaAllah sesudah itu manfaatnya baru terasa, kalau perlu menangis ya menangislah jika itu dianggap mampu membuat kita menerima kenyataan yang berlaku. Untuk bisa menjadi pedang yang bagus, sebuah besi harus ditempa diatas bara api dan dipalu berkali-kali.

Yakinlah bahwa Allah selalu ada didekat kita jika saja kita mau berbaik sangka dengan semua ketetapan-Nya.
Ikhlas ya Mbak Tata … InsyaAllah keikhlasan mampu membuat Mbak menjadi wanita yang tegar, tabah dan penuh semangat dalam menapaki terjalnya hidup.

Doa saya untuk anda.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.,

Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net

=====================================================   

Tanggapan ke-6 :

Oleh : Ory tiva       

Assalamu’alaikum my dear Tata,

Cobaan Allah bisa berupa kenikmatan ataupun
kesengsaraan,
semuanya ujian ….
Pada saat posisi kita di ‘kenikmatan’jangan terlalu
bergembira, demikian pula saat di ‘kesengsaraan’jangan
terlalu merasa nestapa.

Saya pernah berdampingan di bus dengan seorang pak
tua, pakaiannya sederhana, namun wajahnya jernih dan
dari bibirnya selalu terdengar bacaan hamdallah.
Apa maknanya ? Dimanapun posisi kita, bersyukurlah…
alhamdulillah …
alhamdulillah …
masih banyak yang lebih menderita dari kita
dan Allah tidak akan membebani umatnya melebihi
kapasitasnya (tidak mungkin overloaded)
So..artinya : kita perlu berjuang lebih keras lagi dan
berharap HANYA pada ALLAH SWT
jangan pernah sekalipun berharap pada manusia,
karena hanya akan menuai kekecewaan.

Kadang kita terlalu mengasihani diri sendiri
yang sebenarnya itu hanya memarginalkan potensi diri
karena sesungguhnya kemampuan yang kita tunjukkan
masih jauuuuh di bawah kapasitas yg kita miliki !!!
So…kita perlu menggali potensi diri
lebih dalam agar lebih dapat menangkap makna
kebesaranNya di dalam setiap ujian-ujianNya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

=====================================================   

Tangapan ke-7   
       
Oleh : Dermawan      

Alhamdulillah…….Mas Tata …….menurut saya itulah hidup …..penuh
perjuangan, karena kita masih di dunia.

Dan itulah pelajaran dari Allah SWT untuk kita…. Pernah saya mengalami hal
yang rumit, kesana mentok, kesini buntu, kekanan tertutup, kekiri
terhalang….tapi ternyata Allah sedang mengajarkan saya sifat tawakal
(hikmah yang saya ambil).
Karena tawakal salah satu syaratnya adalah tidak bergantung / berharap
kepada makhluk.
Untuk menghadapi masalah tersebut (keadaan Mas Tata) Saya sarankan untuk
terus belajar dan menuntu ilmu serta tak kalah penting melatihnya, supaya
terampil dalam menyikapi permasalah hidup…..
Belajar dari buku, kaset, vcd dan majelis hikmah……….

Buku-buku yang bisa jadi rujukan :
Buku karangan Ibnu Atho’illah : tutur penerang hati, kuliah ma’rifat (kita
Al-hikam) dan lain-lain
Buku karangan Imam Ghozali : Asmaul husna, keajaiban hati dan lain-lain
Dan buku-buku mengenai penyakit hati dan yang membahas mengenai Allah.

Kaset : Kaset ceramah Aa Gym

Vcd : Harun yahnya

Majelis Hikmah : Setiap malam selasa
Di masjid Darut Tauhid, Cipaku I No. 43, telp.
7235255

Saya juga sedang dalam proses belajar …entah sampai kapan…

Demikian dari saya..lebih kurangnya saya mohon maaf..

Wass.wr.wb

       

=====================================================            

Tanggapan ke -8
   
Oleh : Endang Setiawati      

Dear Tata,

Bersikap sabarlah atas ujian Allah…
Jika Allah memberikan ujian kepada kita..
itu artinya Allah sayang sama kita…
bukankah begitu myQers?

* "Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya
dalam bungkusan yang indah?"
* Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi,
mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.
"Tidak!" lanjut Neno. "Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta
dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia
mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan
kelihatannya sukar untuk dibuka.Pertanyaannya adalah: *mengapa?"
*"Itu tidak lain karena *Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka
bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah* lapis demi
lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah
berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir
terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di
dalamnya."Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya
pinta? Kuncinya adalah: jangan pernah berhenti memuja. *Jangan pernah
berhenti berharap. *Allah tidak tidur. Allah mahamengetahui.

Allah mahamendengar. Dia maharahman dan rahim.

Sungguh *tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu
***
*berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya.* Entah nikmat, entah

musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang

selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat
kita membukanya dengan sepenuh cinta.

Semoga bermanfaat.

wassalam,
Endang Setiawati

       
   

=====================================================   

Oleh tata   :   

Alhamdulillah… Terima kasih…semoga aku bisa…bantu doa yaa :)

=====================================================

Tanggapan ke - 9 :
       
Oleh : Endang Setiawati      

ya… endang doain tata…
semoga berhasil ya..
Allahu ma’ana
Raihlah cinta-Nya…
karena kebahagiaan sejati ada dalam cinta-Nya..

salam,
3ndank’s

=====================================================   

Tanggapan ke - 10

Oleh : praseth s

Dear  Tata,

Pertanyaanmu adalah pertanyaanku juga selama bertahun-tahun dalam perjalanan
hidupku.
Suatu saat aku berpikir bahwa keikhlasan dalam setiap amalku hanya Allah SWT
dan aku sendiri yang tahu.
Tapi belakangan aku berpendapat bahwa hanya Allah SWT yang tahu keikhlasan
seseorang.
Aku (atau mungkin juga berlaku untuk semua orang) tidak pernah tahu persis
akan keikhlasannya.
Mengapa? Karena kita, manusia, cenderung untuk memaklumi semua tindakannya
… akhirnya … rasa keikhlasannya jadi bias.

Semakin aku memikirkan amal-amalku … semakin terasa bahwa kadar
keikhlasanku semakin hilang.
Jadi akhirnya aku punya kesimpulan … beramallah sebanyak-banyak …
sesudah itu serahkan kepada Allah … lalu lupakan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

=====================================================   

Tanggapan ke -10

Oleh : ambi gultom

Assalamu’alikum WR WB

mudah-mudahan ana belum terlambat memberikan beberapa masukan.
untuk menjadi iklhas menerima ketetapan Allah SWT adalah merupakan hal yang
sangat berat, dan memang disini lah kita di uji. Jika kita berhasil melewati
masa ujian itu, maka kita akan semakin pandai dalam mengarungi kehidupan,
sehingga kita akan hidup bahagia dunia dan akhirat.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri, untuk dapat ikhlas dalam menerima
ketetapan Allah SWT adalah dengan banyaknya kita bersyukur kepada Allah SWT,
semakin banyak kita bersyukur kepada Allah maka kita akan semakin ikhlas.
Marilah kita mengingat kembali, bukankan kita tidak punya rencana untuk
lahir ke bumi ini ?
bukankah kita tidak puna rencana siapa Bapak kita? atau siapa Ibu kita, atao
dimana kita dilahirkan? tidak, kita tidak merecnanakannya sama sekali.
atau
perlu kita membandingkan antara keputusan yang kita terima dengan keputusan
yang di terima oleh orang lain, sehingga kita semakin bersyukur.
misalnya  kita diberi nikmat ISLAM, bandingkanlah dengan mereka yang tidak
diberi nikmat Islam, bandingkanlah. Bagaimana lagi kita bersyukur kepada
Allah dengan nikmat Islam yang ada dalam dada kita ? yang akan membuat kita
bahagia dunia dan akhirat.

demikian
(yang memberi nasehat tidak lebih baik dari yang dinasehati, akan tetapi
mari kita terus saling nasehat menasehati)

Wassalamu’alikum WR WB