Assalamualaikum Wr.wb
membaca tulisan "ungkapan sederhana untuk istri tercinta" jadi ingat
tulisan beliau yang lainnya, dimuat di web surau, silahkan baca..
http://surau.org/modules.php?name=News&file=article&sid=120
Serba Serbi: ADA AIRMATA TERTAHAN
Dipublikasi pada Wednesday, 15 October 2003 oleh falgent
Oleh: M. Fauzil Adhim
"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang
engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila
tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan
timbul kerusakan yang merata di muka bumi." (HR Tarmidzi dan Ahmad)
Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan
oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan Allah,
mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris
tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa
ada alasan syar’i dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut
melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang
sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius.
Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh
tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang
belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh
lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami sindrom kemapanan
(meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30).
Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit
dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak kriteria semakin
sedikit yang masuk kategori. Begitu pula kriteria tentang jodoh,
ketika menetapkan kriteria yang terlalu banyak maka akhirnya bahkan
tidak ada yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang
sudah berusia sektar 35 tahun, masalah nya bukan kriteria tetapi soal
apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an,
ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang
tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang
pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri
dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan
lain yang mencekam. Yaitu kekhawatiran ketidakmampuan mencari nafkah
sementara anak masih kecil.
Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan khawatir kematian lebih
dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati.
Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan.
WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA
Apa yang menghimpit saudara kita sehingga mereka sanggup meneteskan
air mata. Awalnya adalah karena mereka menunda apa yang harus
disegerakan, mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal
Rasululloh berpesan: "Wahai Ali, ada tiga perkara jangan di tunda-
tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap
penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang
sepadan meminangnya." (HR Ahmad)
Hadis ini menunjukan agar tidak boleh mempersulit pernikahan baik
langsung maupun tak langsung. Secara langsungadalah menuntut mahar
yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang
tidak secara langsung. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit,
meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah.
Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri
yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan.sebagian lainnya
melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya
pernikahan secara tersendiri.
Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan
penundaan pernikahan semata karena masalah ini. Saya sangat khawatir
akan keruhnya niat dan bergesernya tujuan. Sehingga pernikahan itu
kehilangan barokahnya. Na’udzubillah
Penyebab lain adalah lemahnya keyakinan kita bahwa Allah pasti akan
memberi rezeki atau bisa jadi cerminan dari seifat tidak qona’ah
(mencukupkan diri dengan yang ada).
PILIHLAH YANG BERTAKWA
Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia
ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan
ra berkata: "Kawinkanlah dia dengan orang yang bertakwa kepada Allah.
Sebab jika laki-laki mencintainya, ia memuliakannya, dan jika ia
tidak menyenaginya ia tidak akan berbuat zalim padanya."
Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk membenahi pikiran. Jika kita
menikah dengan orang yang bertakwa cinta yang semula tak ada meski
Cuma benihnya dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa.
Wallahu alam bi showwab.